19 Juli 2007

Ugh…….!!! [2]

Saya kembali diserang sakit radang tenggorokan. Benar-benar menyebalkan. Padahal radang ini belum sebulan yang lalu kambuh, dan sekarang, walah kok ya tega-teganya menyerang saya lagi. Persediaan obat saya sudah menipis, jadi sepertinya harus singgah dulu ke apotek sepulang dari kantor nanti malam.

Penyebab kambuhnya sih saya tahu. Gara-garanya, saya nekat makan oleh-oleh pemberian Dani–ilustrator Majalah Kombinasi. Sebenarnya saya tidak akan menyalahkan Dani atas oleh-oleh tersebut. Pasalnya, saya sendirilah yang meminta dia untuk membawakan saya camilan, jika dia hendak ke CRI–kantor saya. Saya mengharapkan Dani mengoleh-olehi saya keripik paru, seperti yang biasa dia bawakan untuk saya setiap kali datang ke CRI. Namun ternyata Dani membawa sebungkus kacang–entah kacang apa, saya tidak begitu tahu–dan pillow (snack ini merupakan genre lain dari krupuk, berbentuk kotak kecil-kecil, dan dilapisi keju). Nah, saya terlalu asyik makan pillow itu, hingga hampir separo isi toples saya habiskan sendiri.

Alhasil, malamnya, saya terserang batuk-batuk hebat, tenggorokan saya seperti disayat-sayat, perih. Saya belum curiga jika radang tenggorokan saya bakalan kambuh. Hingga pagi harinya, saat terbangun karena hendak menerima telepon dari Syamsul Alam (Kendari), ehh..... ternyata suara saya justru tidak mau keluar. Saya musti berdehem-dehem beberapa kali agar suara saya bisa keluar, untuk sekadar mengucapkan "halo" pada Syamsul. Saya sempat meng-SMS Thalib, memberi tahu kalau radang tenggorokan saya kambuh. Dia membalasnya dengan menulis, "Minum obat dulu biar agak mendingan." Balasan SMS itulah yang menjadi reminder saya untuk segera ke apotek, karena saya hampir kehabisan persediaan obat.

Dan selama di kantor, saya tersiksa setengah mati dengan tenggorokan saya yang benar-benar tidak mau diajak kompromi ini. Padahal, saya tengah dikejar deadline, ngedit materi Kombinasi Edisi 21 dan Buletin Kaukus 17++ yang segera naik cetak. Plis, tolongin saya dong…..***

Sebuah Pertanyaan untuk Cinta*

[Percakapan imajiner dengan empat laki-laki]

AW [pertengahan Desember 2006]
Malam cinta, lagi ngapain?
Nonton tivi.
(Singkat, dan menurut saya cukup jelas untuk menjawab pertanyaan AW yang disampaikannya melalui SMS)
Sy ingin tau, slama ini sbenarnya spt apa sih kamu mengapresiasi hub kita?!
(Dia kembali meng-SMS saya setelah sekitar satu jam berjeda)
Gw ga tau, gw cuma menganggap lu sbg teman skaligus kekasih dlm hidup gw.
Gak lebih?
Mo kelebihan spt apa?! Lu ga eksis tapi lu ada. Gw serasa mencintai bayangan aja.
Aduh cinta, bukankah sy slalu ada setiap kali kau butuh sy. Stiap hari sy slalu kangen ama kamu, spt itu kamu masih sj meragukan cintaku.
Lu salah, bukankah gw ga pernah benar2 penting buat hidup lu. Ada hal2 lain yg slalu membuat lu meno2kan gw.
Tidak, lu slalu istimewa buat sy.
Bokis!!!
(Setelah itu, percakapan SMS kami malam itu berhenti)

ST
(HP saya berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Oohh, nomornya tidak tercatat di phonebook HP saya)
Halo Yang, lagi di mana, berisik sekali.
(Ah ya, saya mengenali suaranya)
Nggak usah telpon-telpon gw lagi!!!
(Dengan ketus saya menjawab telepon itu)
Kenapa sih Yang, kok marah-marah mlulu. Lagi di mana sih, berisik banget.
Di bus.
Mau ke mana?
Ke Solo.
Emang dari mana?
Semarang.
Dalam rangka apa, nyampe Solo kira-kira jam berapa?
Main, dari Semarang, keasyikan ngobrol ama Mas Roni, kehabisan bus yang ke Jogja, terpaksa lewat Solo.
Mau dijemput di Solo nggak, kebetulan gw lagi ada di Solo nih, lagi nanganin perkara.
Nggak usah, gw bisa sendiri. Nggak usah nelpon gw lagi deh.
Kenapa emangnya?
Kok masih nanya kenapa!
Lha gw nggak tau apa-apa lho Yang, ada apa sih, jangan marah-marah terus deh.
Lagi lu tuh ngirim SMS najis gitu deh. Kita putus.
SMS yang mana Yang, tunggu gw di Jogja aja, kita selesaikan.
(Tapi dia tidak pernah benar-benar datang)

AW [15 Juni 2007, sore]
Hai!!! Senang deh, lusa saya mau ke Jogja, kamu jemput saya ya. Saya menginap di Jogja Plasa, jauh nggak dari kosmu?
Di Colombo itu.
Apa itu Colombo?
Nama daerah.
Jauh nggak, mau jemput saya nggak, saya nyampe Jogja malam deh.
Iya, tunggu aja.
Mau berapa hari di Jogja?
Kalau kamu nggak sibuk, seminggu ya saya di sana. Saya kangen.
Oke.

SA
(Dengan nada tinggi SA menanggapi pembicaraan saya saat saya mengangkat topik mengenai AW, melalui telepon)
Kenapa kamu tidak berusaha menahan diri? Kamu terlalu mudah percaya dia benar-benar jatuh cinta padamu.
Tapi saya benar-benar jatuh cinta padanya.
Kamu salah, kamu hanya tergoda untuk jatuh cinta padanya. Saya yakin sekali ini hanya sesaat. Atau jangan-jangan kamu malahan hanya sedang berkhayal bahwa kamu tengah jatuh cinta padanya dan dalam khayalanmu itu kamu membayangkan dia juga tergila-gila padamu. Ini tidak nyata, Sayang. Ayolah, bangun, hadapi realitanya.
Saya tidak tahu, saya bingung. Saya tidak bisa menjelaskannya, yang pasti saya merasakan ini, saya benar-benar sedang jatuh cinta padanya.
Terserah kamu saja, tapi aku harap kamu mengerem dulu semua rasamu itu, masih akan ada banyak kesempatan, Honey.
Oke, waktu akan membuktikannya.
Sudahlah Sayang, percaya deh ama aku, waktu tidak akan membuktikan apa-apa. Menjadi kekasihku sajalah, kamu tidak perlu lagi berkeliling dunia untuk menemukan cinta sejatimu, karena aku ada di depan matamu.
(Saya terdiam)

AW [23 Juni 2007, di Bandara Adi Sucipto, pukul 06.00 WIB]
Saya balik, nanti saya SMS. Tolonglah yakin dengan hubungan ini.
(Saya tidak menjawab apa-apa)

ST [setelah enam bulan berselang, tanpa kabar]
Halo Yang, apa kabar?
Tolong, jangan panggil gw dengan panggilan itu lagi. Kita bukan lagi sepasang kekasih.
Nggak. Lu tetap milik gw, sampai kapan pun.
Please, jangan membuat saya sedih. Saya capek dengan hubungan kita.

AW [dua minggu kemudian]
Ternyata, saya tidak memiliki apa pun yang bisa merepresentasikan dirimu.
Duh, segitunya deh.
(Beberapa menit kemudian, saya baru memikirkan makna ucapannya itu)

AM [komunikasi melalui Yahoo Messenger]
Say, jujur deh, apa sih yang membuat lu jatuh cinta ma gw?
Gw? Jatuh cinta ma lu? Kayaknya belum deh.
Ayolah, apa dong yang membuat kamu tertarik sama aku? Bukan secara fisik lho, karena kita kan belum pernah bertemu muka.
Ga ada. Sumpah.
Lantas, menurut kamu, hubungan kita tuh seperti apa sih?
Gw ga tau. Lu ga eksis. Tolong jangan pernah lagi nanyain kayak gituan ke gw.

[*Judul salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma]

16 Juli 2007

Agama yang Lain

Takmad Diningrat (67 tahun), sebelum saya ke Indramayu pada akhir Januari 2007 lalu, saya belum pernah sama sekali mendengar namanya. Dia adalah pemimpin atau ketua adat–atau apalah istilahnya–dari komunitas Suku Dayak Hindu Buddha Bumi Segandu di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Indramayu. Ketika Hero Gunawan–salah seorang teman dari Losarang–menceritakan soal komunitas unik itu, saya langsung tertarik. Hero pun bersedia mengantarkan saya ke sana.

Eits, jangan salah sangka dulu, ini bukan Suku Dayak seperti yang ada di Kalimantan lho. Melainkan, Dayak bermakna eksistensi manusia di lingkungan alam semesta. Dayak berasal dari kata ayak (nama alat penyaring). Jadi, Dayak berarti orang-orang pilihan, hasil seleksi, saringan, atau ayakan alam. Kata Hindu Buddha pun tidak merujuk pada nama agama. Hindu berarti jiwa dan Buddha bermakna raga. Sedang Bumi Segandu adalah nama tempat komunitas tinggal*).

Ketika menginjakkan kaki ke kompleks permukiman komunitas itu, saya agak keder juga. Yang ada dalam benak saya adalah sosok kepala suku yang angkuh, sulit ditembus, dan 'menjaga jarak' dengan orang asing. Namun ternyata, sosok Takmad sungguh berbeda dari bayangan saya. Sikapnya yang ramah dan tanpa pretensi, membuat saya nyaman bercakap-cakap dengannya. Meski, ada satu kendala yang cukup mengganggu, yakni perbedaan bahasa kami berdua. Saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dan sesekali saya selingi dengan bahasa Jawa. Sedangkan sang kepala suku ini, konsisten berbicara dalam bahasa Indramayu kuno yang sulit sekali saya pahami. Untunglah ada Hero yang berperan sebagai penerjemah, meskipun–sebagai orang Indramayu modern–dia harus berjuang setengah mati memahami kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Takmad.

Meskipun anggota komunitas ini juga menganggap Suku Dayak Hindu Buddha Bumi Segandu sebagai "agama", sebenarnya ajaran yang disampaikannya cukup sederhana. Mereka terbiasa menamakan ajaran itu dengan "Sejarah Alam Ngaji Rasa" yang intinya mengajarkan manusia untuk selalu sabar, bertindak benar, dan jujur, serta menyelaraskan segala macam tindakannya dengan keberadaan alam semesta.

Namun ada satu lagi ajaran yang harus ditaati oleh seluruh anggota komunitas–Takmad mengklaim anggota komunitasnya berjumlah 7.000-an orang. Bahwa laki-laki harus menghargai keberadaan perempuan dan anak-anak. Laki-laki anggota Suku Dayak harus mendahulukan kepentingan perempuan dan anak-anak. Dalam komunitas itu, laki-lakilah yang harus bekerja keras memenuhi semua kebutuhan perempuan dan anak-anak. Wah, kalau soal yang satu itu saya sepakat banget (secara gituloh….), ternyata si Takmad ini cukup sadar gender juga ya.

Ajaran lain dalam komunitas "aneh" itu dilarang mengonsumsi daging, jadi mereka harus menerapkan pola makan vegetarian. Saya agak tidak percaya dengan itu, mengingat beberapa laki-laki yang tinggal di kompleks itu berperut cukup buncit. Hero meyakinkan saya dengan bercerita, "Kabarnya mereka memiliki ilmu kesaktian kebal tubuh. Jadi, kalau di Indramayu dan kota-kota sekitarnya ada demonstrasi yang dimungkinkan bakalan rusuh, Takmad diundang sebagai pengaman di garis depan. Untuk itu pihak aparat keamanan cukup memberinya mentimun sebanyak satu karung sebagai upah." Lah, kok kayak kelinci saja, pikir saya.

Sebagai lelaki normal, Takmad juga berkeluarga. Saat ini, dia tinggal memiliki lima orang anak dari 12 anak yang dilahirkan dari rahim Sarini, perempuan yang dinikahinya pada tahun 1974 (anak-anaknya yang lain meninggal dunia). Saya sempat berkenalan dengan Nyi Dewi Ana Mustika Ratu, biasa dipanggil Nyi (9 tahun)–tapi saya lupa dia anak yang keberapa. Saya agak surprise melihat "gaya" dia. Sebagai anak kepala suku yang mengasingkan diri dari peradaban, Nyi cukup beradab. Di tubuhnya, terlihat perhiasan yang cukup mencolok, beberapa gelang emas di pergelangan tangan kanan dan kirinya, juga kalung dengan rantai yang lumayan besar.

Saat saya bertanya, adakah ia sekolah, dengan mantap ia pun menjawab, "Kelas 2 SD Krimun." Lantas, ia pun bercerita dengan gaya kenes, bahwa gurunya sering kali 'takut' berhadapan dengannya, karena dia anak ketua adat. "Saya belum bisa membaca, tapi saya suka sekali bernyanyi," begitu terangnya, saat saya bertanya apakah dirinya sudah mahir membaca dan menulis. Nyi pun lantas memamerkan keahliannya bernyanyi di depan saya dengan diiringi permainan organ oleh salah seorang kakak laki-lakinya. Takmad agak kesulitan mendeskripsikan soal organ itu kepada saya. Dengan kosakata yang terbatas, dia hanya sanggup menerangkan, "Dia suka sekali bernyanyi pakai 'alat musik yang digenjot-genjot' itu." Kurang lebih seperti itulah penjelasan yang bisa ia sampaikan kepada saya, tentu saja dalam bahasa Indramayu dan telah disadur bebas oleh Hero. Tapi, digenjot-genjot?! Saya sama sekali tidak paham dengan "alat musik yang digenjot-genjot" itu. Sungguh, saya tidak dapat membayangkan alat musik seperti apakah bentuknya hingga bisa digenjot-genjot itu. Sampai akhirnya saya sedikit memaksanya untuk menunjukkan alat musik tersebut, daripada saya hanya membayangkannya dan ternyata salah. Agak tercengang juga ketika saya melihat langsung alat musik yang digenjot-genjot itu, oalah, ternyata organ to (mungkin deskripsi yang tepat untuk alat musik itu adalah dipencet-pencet, bukan digenjot-genjot).

Rupanya, Nyi juga mempunyai ketertarikan yang tinggi terhadap teknologi. Buktinya, dia begitu antusias dengan kamera digital yang saya bawa. Saya pun tidak segan mengajarinya mengoperasionalkan kamera tersebut. Dia sangat suka memotret ibu dan anjingnya. Malahan, dia meminta saya untuk memotretnya dengan berganti-ganti pose. Saya suka sekali dengan gadis kecil itu. Dia bukan gadis pingitan yang canggung menghadapi orang asing.

Di akhir pertemuan kami, Takmad menghadiahi saya sebuah gelang dari bahan bambu. Katanya, gelang itu merupakan "tanda" identitas komunitasnya. Dia bilang, pertemuan kami sebenarnya memang telah ia ramalkan. Bahkan, sebelumnya, ia juga bermimpi saya akan mengunjunginya. Entahlah, untuk yang terakhir rasanya sulit sekali dipercaya. Tapi sebagai tanda hormat dan ucapan terima kasih, saya mengiyakan gelang itu ia pasangkan di pergelangan tangan kanan saya.***
[*)Potret-SCTV, Sabtu 27 Januari 2007]

15 Juli 2007

Kangen

"twinkle twinkle little stars, how I wonder what you are, up above the world so high, like a diamond in the sky, twinkle twinkle little stars, how I wonder what you are…"

Ah ya, lagu ini mengingatkan saya kepada beberapa orang–kepada merekalah saya menyimpan rindu. Yang pertama adalah almarhum bapak saya. Dialah orang pertama yang mengenalkan lagu itu kepada saya saat saya kecil dulu. Meskipun bapak tidak bisa berbahasa Inggris tapi dia nekat juga mengajari saya menyanyikannya.

Orang kedua adalah Mas DH, sahabat saya yang meninggal karena sakit. Dulu, sewaktu kami masih getol mendaki gunung, Mas DH selalu menyanyikan lagu itu sambil bermain gitar untuk saya.

Sedangkan orang yang ketiga adalah si Twinklestar, laki-laki yang telah empat tahun ini 'mengaku' sebagai kekasih saya. Lagu itu ia perdengarkan "kali pertama" kepada saya saat saya masuk ke mobilnya, juga untuk yang pertama kalinya.

Kangen saya terhadap mereka bertiga, sungguh, tidak dapat terganti oleh apa pun juga. Dan saya….. ternyata saya cukup setia menjaga semua kangen itu untuk mereka. Naif, mungkin saja. Tapi biar saja, saya toh bahagia dan menikmatinya.***

08 Juli 2007

Harta Karun

Kemarin, saya menerima SMS dari Mas Roni yang isinya kurang lebih, "Nanti jika buka email, di situ akan tersimpan harta karunku, Martoloyo dan Puspa Tajem." Martoloyo adalah cerita bersambung dalam bahasa Tegal yang saat ini tengah digarapnya di harian Suara Merdeka. Sedangkan Puspa Tajem adalah judul novel yang hendak ia terbitkan. Novel itu merupakan cita-cita besar dalam hidupnya yang telah tertunda penyelesaiannya hingga dua tahun.

SMS itu sempat membuat saya tertegun, Mas Roni punya harta karun, lah saya?! Mas Roni–sahabat sekaligus guru menulis saya–selalu beranggapan tulisan-tulisan yang dihasilkannya merupakan "harta karun" dalam hidupnya. Kemampuannya menghasilkan tulisan yang bagus selalu saja membuat saya iri. Ah, andaikan saya dikuliti, ternyata saya tidak mempunyai potensi apa-apa dalam hidup saya yang bisa saya banggakan untuk dijadikan harta karun. Saya memang mempunyai sedikit kemampuan untuk menulis. Namun saking sedikitnya kemampuan itu malahan bisa dikatakan pas-pasan.

Eh, setelah saya pikir-pikir lagi, sebenarnya saya masih mempunyai kemampuan lain yang cukup bisa diandalkan. Yakni kemampuan untuk menyakiti hati orang lain. Kalau untuk urusan yang satu itu, saya ahlinya. Saya sangat bisa mencela hasil pekerjaan orang lain, padahal pekerjaan saya sendiri saja jauh dari beres. Saya juga bisa merendahkan derajat orang lain, padahal saya sendiri bukanlah orang yang punya derajat tinggi. Itulah saya. Harta karun saya justru di mulut saya yang sangat suka membicarakan kejelekan dan kekurangan orang lain, padahal saya juga bukanlah orang yang bagus dan lengkap.

Saya sepakat dengan bunyi iklan "Mulutmu Harimaumu". Itu sering mengingatkan saya agar bisa mengerem laju mulut saya yang selalu ingin berbicara nyinyir kepada orang lain.

Mas Roni sering menasehati saya agar rajin bertahajud dan ikhtiar, karena hanya itu kunci untuk menemukan "harta karun" saya. Sayangnya, dasar saya memang pemalas, jangankan mengambil air wudu untuk bertahajud, buat bangun malam saja rasanya…. ampun deh…. mendingan narik selimut lebih rapat menutupi tubuh saya saja!

Saya memang belum menemukan harta karun saya, hiks...hiks... saya bahkan tidak tahu di mana harus mencarinya. Anda, bagaimana? Kadang saya juga kepingin seperti Santiago–si anak gembala dalam Sang Alkemis (Paulo Coelho), karena untuk menemukan harta karunnya, ia sempat diberi petunjuk melalui mimpi yang berulang. Meskipun petunjuk itu sendiri pun ia ingkari, dan Santiago memilih berkelana mencari harta karunnya. Padahal harta karun itu tersimpan di bawah pohon sikamor yang selama hidupnya menjadi tempat ia dan domba-dombanya bermain.

Kepinginnya sih, saya tidak perlu harus "berkelana" untuk menemukan harta karun saya. Ah, andai saja harta karun itu diperlihatkan secara gamblang di depan mata saya dan saya tinggal mengambilnya kapan pun saya menginginkannya..... ***

Click!

Ketika membaca judul itu pasti Anda akan langsung teringat pada sebuah film dengan judul yang sama. Ya, tulisan ini memang diilhami oleh film tersebut. Sebenarnya saya belum sempat menonton film yang dibintangi Adam Sandler itu. Saya hanya pernah membaca ulasannya yang ditulis di detik.com. Nantilah, saya akan menyempatkan diri untuk hunting film yang tidak realistis itu.

Sama dengan yang terjadi di Click, saya sering berkhayal, seandainya saja saya mampu mengendalikan waktu. Atau kembali ke satu waktu yang benar-benar ingin saya ulang. Atau kadang saya kepingin ke satu masa tertentu hanya untuk mencegah sebuah peristiwa tidak terjadi menimpa saya, hingga saya mampu mengubah sejarah hidup saya sendiri.

Seorang teman sekantor saya pernah bertanya, seandainya kamu diberi kesempatan untuk mengulang waktu, kira-kira kamu ingin mengulang waktu yang mana? Ah, saya sempat tertegun sejenak dengan pertanyaan yang (sebenarnya) tidak terlalu serius dia lontarkan itu. Ternyata saya butuh beberapa detik untuk menjawab pertanyaan guyonan itu. Ya, saya harus menata hati agar jawaban yang saya berikan terdengar “biasa”. Lantas, sedikit tergagap namun mantap, saya menjawab pertanyaan–yang sebenarnya sudah lama ingin saya sampaikan kepada orang lain, tapi saya tidak pernah punya kesempatan melakukannya, sebab selama ini tidak pernah ada yang menanyakannya kepada saya–itu, “Saya ingin kembali ke tanggal 15 Februari 2001.” Saya tahu jawaban itu cukup membuat dia heran. Kenapa? Saya sendiri tidak tahu kenapa, dari sekian banyak hari dan tanggal yang telah saya lewati dalam hidup saya, kenapa saya harus memilih tanggal itu untuk saya ulang. Tidak, tidak, tanggal itu bukan tanggal kelahiran saya, sebab saya lahir tanggal 30 September. Itu hanya tanggal saat saya mengalami kejadian kecil dalam hidup saya, namun hingga kini peristiwa itu tidak pernah bisa saya lupakan.

Masing-masing orang pasti pernah mengalami peristiwa buruk dalam hidup mereka. Saya pun juga pernah mengalaminya. Dan tanggal itulah yang saya pikir merupakan saat terburuk dalam hidup saya. Meskipun, ada beberapa momen dalam hidup saya yang sangat ingin saya ulangi, tapi peristiwa di tanggal 15 Februari itulah momen yang paling ingin saya ubah kejadiannya. Maaf, saya tidak akan membahasnya secara detail di sini, sebab meskipun saya termasuk orang yang cukup cerewet, akan tetapi untuk menceritakan peristiwa tanggal 15 Februari itu saya benar-benar tidak bisa melakukannya. Tidak sekarang, mungkin nanti.

Kembali ke Click, saya seringkali membayangkan jika seandainya waktu benar-benar dapat diputar, apa yang akan terjadi dengan hidup saya ya…. Seandainya saya bisa dilahirkan kembali, kira-kira saya akan memilih dilahirkan menjadi siapa ya…. Saya bukannya tidak bersyukur dengan apa yang telah saya dapatkan sekarang ini, tapi andai saja saya diberi kesempatan menjadi orang lain, sungguh, alangkah “kaya” hidup saya.***

03 Juli 2007

“Bidadari Penyelamat”*

Saya salah seorang penggemar berat acara K!ck Andy di Metro TV setiap Kamis malam. Salah satu yang saya gemari di acara tersebut adalah Andy F Noya, bukan karena dia berambut keriting lho, tapi lebih karena saya melihat kehadiran Andy dengan talk show-nya itu selayak "bidadari penyelamat" bagi banyak orang.

Di negeri ini, menurut saya, ada banyak sekali "larangan" yang jika dilanggar akan fatal sekali akibatnya. Di antaranya dilarang miskin, dilarang sakit, dilarang cacat, dilarang tidak cantik, dan masih banyak lagi larangan yang bersifat mendiskreditkan kelompok orang tertentu. Namun, untunglah negara ini memiliki orang seperti Andy. Saya sih masih yakin sebenarnya ada banyak sekali "Andy" di seluruh penjuru negeri ini, cuma mereka tidak mempunyai kesempatan mengelola talk show seperti Andy F Noya.

Saya percaya, setiap orang memiliki "mukjizat"-nya masing-masing. Apa pun bentuknya. Saya juga percaya Tuhan ada di mana-mana. Setiap kali acara K!ck Andy berakhir, saya selalu saja menggumamkan, "Akan selalu ada malaikat penyelamat dalam hidup seseorang." Saya mengagumi Andy karena dia selalu bisa menciptakan mukjizat bagi orang lain. Sedangkan saya….. Jangankan menjadi mukjizat bagi orang lain, hingga detik hari ini pun saya masih terus mengharapkan mukjizat itu hadir dalam hidup saya.

Suatu hari, saya menerima email dari Mas Roni–sahabat saya yang tinggal di Semarang–yang isinya cukup membuat saya "terharu-biru". Email itu sebenarnya jawaban dia atas pertanyaan saya, seperti apa sebenarnya dia memandang saya selama ini, dan jawabannya:
"duk, biduk, biduk, duk biduk
dulu, sekarang, dan semoga selalu: kamu orang baik.
itu yang ada dalam pikiranku.
hanya saja, dalam dunia yang jungkirbalik ini, orang
sering keliru menatap kebaikan orang.
saran saya: kamu hanya butuh selalu bersabar untuk
terus jadi orang baik. dan kamu harus yakin itu.
dan sebenarnya tak mudah jadi orang baik.
tapi kamu jangan seperti saya: pura-pura jadi orang
yang baik. karena sebenarnya aku lagi terus belajar
menjadi orang baik.
duk, biduk, biduk.
jangan cari malaikat penyelamat atau mukjizat. semua
ada di dirimu. pepatah jawa bilang: usada iku ana ing awake
dhewek.
salam sayang"

Ah, Mas Roni masih saja beranggapan saya adalah orang yang baik. Padahal, mungkin saja, secara sadar atau tidak sadar, saya masih sering menyakiti hati orang lain.

Mas Roni juga sering mengingatkan saya, bahwa ada "malaikat hidup" yang ada di dekat saya dan saya tidak perlu mencarinya terlalu jauh. Yakni Mami saya. Saya memang melihat Mami adalah seorang perempuan yang sangat hebat. Sejak bapak saya meninggal, Mami harus berjuang sendiri melanjutkan hidup. Mami selalu berusaha tidak mengeluh. Bahkan rumah besar peninggalan bapak itu mau tidak mau harus dirawatnya seorang diri karena tidak ada anak-anaknya yang mau tinggal lama di sana. Saya sangat tahu Mami kesepian menghuni rumah sebesar itu sendirian. Mba Ika–kakak saya–memilih tinggal di Italia, saya dan Cendhul–adik bungsu saya–tinggal di Jogja, sedangkan Robi' dan Rois–dua adik laki-laki saya–sekarang di Solo (Robi' meskipun dia selalu pulang ke rumah, namun keberadaannya tidak pernah benar-benar di rumah).

Selama ini, saya memang selalu menjadikan Mami dan rumah sebagai "bidadari penyelamat" dalam hidup saya. Sebab, ketika di rumah, segala macam persoalan seperti tiba-tiba menemukan jalan keluarnya sendiri-sendiri, semua masalah selesai dengan sendirinya. Tapi, saya selalu saja mencari-cari alasan untuk tidak pulang. Bahkan Mami sampai memohon-mohon agar saya mau pulang sebentar. Tapi ya itu tadi, entah kenapa, saya malas sekali pulang. Walah, tiba-tiba saya kok malah jadi sangat rindu rumah. Kangen nasi goreng buatan Mami yang rasanya paling enak sedunia, menurut saya.***
[*judul lagu Slank]

01 Juli 2007

Ugh…….!!!

Beberapa hari ini merupakan siksaan paling menyakitkan dalam hidup saya. Pasalnya, sejak Kamis kemarin, radang tenggorokan saya kambuh. Dan sakitnya, alamak…. minta ampun. Sebenarnya saya sudah minum obat, FG Troches Meiji (tablet hisap)–atas saran Mas Budi, teman sekantor saya–tapi belum juga pulih. Radang ini sangat menyiksa saya karena saya terpaksa harus mengurangi frekuensi ngoceh dan bersenandung.

Dalam hidup saya, ada dua penyakit lain yang terus-menerus menjadi sahabat setia tubuh saya, selain radang tenggorokan itu. Yakni migren dan maag. Keduanya, jika sudah kambuh pasti menimbulkan efek yang betul-betul menyakitkan. Selain saya pasti akan mengalami muntah-muntah hebat, tubuh saya juga tidak bisa diajak kompromi untuk bekerja karena sangat lemas. Bahkan jika migren saya kambuh, saya juga akan mengalami pengaburan pandangan yang cukup fatal.

Kedua penyakit itu sebenarnya telah lama saya derita. Saya mendapatkan serangan maag pertama kali saat liburan kelas IV SD. Sedangkan migren itu mulai menyerang saya ketika saya duduk di bangku kelas I SMA. Kalau untuk maag, saya pernah memeriksakannya ke dokter dan hanya diberi obat. Setelahnya, jika kambuh, saya tidak pernah lagi ke dokter melainkan hanya meminum obat yang diresepkan dokter-dan untungnya obat itu ternyata bisa saya beli secara bebas di apotek. Tapi untuk urusan migren, ternyata saya cukup pengecut untuk memeriksakannya ke dokter. Selama ini jika kambuh, saya hanya mengonsumsi Ultraflu sebagai penangkal. Sebelum saya memutuskan untuk jatuh hati dengan Ultraflu, saya telah mencoba beberapa merek untuk mengatasi migren saya. Namun akhirnya pilihan terakhir jatuh kepada Ultraflu, karena memang hanya merek inilah yang cocok dengan tubuh saya dan terbukti ampuh menangkal migren yang sering menyebalkan itu.

Mas Roni–sahabat saya–sering menasehati saya untuk segera menghentikan kebiasaan saya bergantung dengan Ultraflu. Malahan dia menakut-nakuti saya dengan berujar, “Kalau seandainya tiba-tiba pabrik Ultraflu tutup, gimana?” Atau tiba-tiba dia menelepon saya, “Ada berita penting! Tadi pagi MUI mengeluarkan fatwa bahwa Ultraflu haram hukumnya bagi perempuan!” Bayangkan, ada-ada saja idenya untuk menyetop ketergantungan saya terhadap Ultraflu.

Saya memang tidak bisa hidup tanpa obat. Di tas saya, selain isinya mukena (kecuali saat saya ‘utlah), Coffemix, dan perlengkapan kerja, saya juga selalu menyiapkan obat maag, radang tenggorokan, Ultraflu, dan obat anti muntah sebagai stok persediaan. Bagi saya, obat-obat ini penting untuk ‘menunjang’ hidup saya.

Sedangkan untuk urusan penyakit saya, selama ini saya hanya berusaha untuk meminimalisasi frekuensi kambuhnya dengan mengenali gejalanya dan meminimalkan pemicu kambuhnya–yang telah lama saya kenal karena memang telah akrab dengan tubuh saya.***

29 Juni 2007

My Lovely Coffee

Illy adalah sebuah merek kopi yang dibawa Mba Ika–kakak saya–dari Italia pada akhir Mei lalu. Memang, sebelum dia pulang, saya sudah mewanti-wantinya untuk membawakan saya kopi–apa pun merek dan jenisnya–yang asli Italia.

Sebagai penyuka kopi, saya berambisi sekali mencicipi kopi yang benar-benar ber-taste Italiano. Ternyata, memang hmmmmmm…. baru membuka tutup boksnya saja bau harum kopi yang sungguh nikmat sudah langsung ‘memprovokasi’ hidung saya. Wah, harus buru-buru mencecap nih, supaya lidah saya tidak iri untuk bisa membuktikan kenikmatan rasanya.

Selama ini saya cukup setia mengonsumsi Coffemix sebagai menu andalan sarapan saya setiap hari. ‘Merek’ lain yang juga cukup saya suka salah satunya coffelatte vanila produk Dunkin’ Donuts. Beberapa kali saya juga menikmati cappucino atau espresso produk Starbucks. Tapi saya tidak terlalu suka produk yang terakhir, selain karena harganya mahal, di Jogja belum ada outletnya*. Juga, untuk ukuran harga semahal itu, menurut saya, taste-nya tidak terlalu cocok dengan lidah saya.

Sebenarnya, saya tidak terlalu bisa menikmati kopi tubruk. Namun ada satu merek kopi tubruk yang sangat saya suka, tapi kopi ini sulit sekali saya dapatkan di Jogja. Mereknya Kopi Bintang, produk lokal sebuah pabrik kopi di Palu, Sulteng. Biasanya, saya mendapatkannya secara cuma-cuma dari teman-teman asal Palu yang kebetulan tinggal di sini.

Bagi saya, kopi adalah ‘alat hidup’ yang cukup wajib untuk disediakan sehari-hari. Saya tidak suka merokok, jadi saya memanfaatkan kopi sebagai pen-stimulus otak saya.

Sebenarnya, selain Illy, Mba Ika [kakak saya ini kebetulan bekerja sebagai staf KBRI di Roma, Italia] juga membawakan satu boks kopi lagi untuk stok dengan merek yang berbeda–tapi saya lupa mereknya apa. Sayangnya, Kakak–seorang teman dari Makassar–memaksa membawanya pulang ke sana. Ya sudahlah, saya relakan saja. Untungnya, Basri Andang–teman lain dari Makassar–mengirimi saya kopi toraja.

Katanya, kopi itu merupakan industri lokal yang tengah dikembangkan produksi dan pemasarannya. Mereknya Bal. Di kemasannya ditulis “spesial arabika toraja, dari biji kopi arabika pilihan dan berkualitas yang tumbuh di kawasan pegunungan Bumi Lakipadada pada ketinggian 150-3.082 mdpl, dikembangkan dan diolah secara tradisional berdasarkan keahlian dan pengetahuan lokal masyarakat adat Toraja secara turun-temurun sejak tahun 1860”. Wah, cukup panjang juga sejarah kopi ini ya. Hebatnya lagi, di bagian atas kemasan Kopi Bal itu juga tertulis “dengan membeli produk ini, Anda telah mendukung masyarakat adat dalam pelestarian lingkungan”. Jadi kalau memang Anda ingin punya andil untuk mendukung masyarakat adat dalam melestarikan lingkungan, silahkan membeli kopi ini. Hehehe…***
*) eh ternyata di Jogja sudah ada outlet Starbucks di Ambarukmo Plaza (Amplaz), kayaknya sih baru buka beberapa waktu yang lalu.

27 Juni 2007

Radio Gapura Klewer, Solo

Pendengar Minta Dipesankan Sate Kambing

Hari beranjak siang ketika Titik dan Widya mulai membuka studio kecilnya yang terletak di pojok lantai atas Pasar Klewer, Solo. Meski baru pukul 09.00, namun ratusan orang, baik pedagang maupun pengunjung pasar telah menantikan ‘cuap-cuap’ mereka yang dipancarkan melalui sekitar seratus speaker yang dipasang di seantero pasar tekstil terbesar di Jawa Tengah itu. Selain lagu-lagu yang sedang top, tentu saja.

Kantor yang hanya berukuran 2x4 meter itu memang sejak sembilan tahun lalu difungsikan sebagai pusat informasi dan hiburan bagi komunitas Pasar Klewer. Masyarakat pasar dan sekitarnya mengenal studio kecil tersebut sebagai Gapura Klewer Promotion alias Radio Gapura Klewer. “Kalau mau nanya tentang keberadaan radio ini, orang cukup menyebut Gapura gitu aja, pasti semua orang se-Klewer sudah langsung tahu letaknya di mana,” tutur Widya.

Radio komunitas yang dipancang pada frekuensi 97,3 FM itu, awalnya oleh Hadi Yasri, pemilik modal sekaligus pengelola hanya dimaksudkan untuk meramaikan pasar. Sebab, selain pedagang, pengunjung sering mengeluh kepada Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) atas sulitnya mencari informasi seputar Pasar Klewer.

Meskipun sebenarnya Radio Gapura Klewer termasuk dalam kategori radio kabel, tapi acara-acara yang diprogramkan di radio tersebut cukup mewadahi komunitas pasar yang hiruk-pikuk. Kehadiran Gapura dari pukul 09.00 hingga 16.30 itu dirasa sangat menolong bagi pengunjung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di area pasar yang terdiri atas dua bangunan yang semuanya berlantai dua itu. Misalnya, saking padatnya pasar, pengunjung sering tersesat atau terpisah dari rombongan. Bahkan kadang pedagang juga memanfaatkan Gapura untuk mencari bakul-nya yang hilang. “Di sini kalau nggak ada Gapura nggak bisa dengerin lagu-lagu, kan kita juga butuh hiburan daripada pusing kalau pas dagangan nggak laku,” ucap Yusuf Feri, salah seorang pedagang di los E.

Selain lagu yang menduduki porsi hiburan terbesar sebagai program acara, Gapura juga menyampaikan informasi berupa news. Biasanya, para penyiar Gapura akan menyampaikan berita tentang hal-hal yang tengah in, baik itu seputar Solo maupun berita-berita yang bersifat nasional dan internasional. Gapura juga menjadi media yang sangat efektif untuk menyampaikan informasi dan sosialisasi dari Dinas Pasar Pemkot Solo dan HPPK. “Karena di sini kami belum punya reporter yang ditugasi untuk cari berita langsung ke lapangan, maka kami masih ngambil berita dari koran atau tabloid. Kadang malah justru pendengar yang minta dibacain tentang berita yang lagi trend, seperti seputar pilkada atau perkembangan tsunami waktu Aceh terkena bencana itu,” terang Titik.

Sebagai penyiar radio di lingkungan yang tergolong cukup aktif itu, mau tidak mau mereka (ada lima penyiar di Gapura-red) juga harus mengikuti perkembangan berita yang sedang terjadi. Pasalnya, para pendengar akan selalu menuntut mereka untuk menginformasikan berita-berita terbaru. “Apalagi kalau ada kejadian yang berhubungan dengan Pasar Klewer yang dimuat di sebuah koran, pasti pendengar itu pengen sekali tahu. Supaya mereka merasa tidak ketinggalan berita. Padahal kadang kan kita malah belum sempat baca korannya, jadi malu deh,” kata Widya.

Keterbatasan dana operasional selalu saja menjadi kisah klasik bagi sebuah radio komunitas. Maka Gapura menyiasatinya dengan mengelola iklan layanan dari para pedagang di lingkungan Pasar Klewer. Bahkan mereka juga menyediakan iklan dengan sistem adlips alias iklan sekali tembak dengan tarif Rp 3.000 yang dibacakan lima kali dalam sehari. “Kami memanfaatkan kondisi pasar yang sangat padat ini, yakni dengan mengajak para pedagang agar mau mengiklankan los dan kiosnya melalui Gapura yang bisa didengar orang se-Klewer tanpa perlu mengeluarkan biaya yang mahal. Selain menguntungkan bagi pengiklan, pengunjung juga akan dengan mudah tahu kalau mau membeli barang ini harus ke los yang mana,” jelas Titik yang sejak awal ikut menggawangi pendirian Gapura.

Pendapatan dari iklan sebagai pemasukan utama Gapura itu dirasakan sangat membantu operasionalisasi radio. Sebab, selain untuk pengadaan kaset dan CD lagu-lagu baru, Gapura harus membayar retribusi kepada Dinas Pasar. Tarikan sebesar Rp 300 ribu setiap bulan itu sebagai ganti biaya sewa los dan listrik. Gapura juga masih harus memberikan kontribusi bulanan kepada HPPK sebagai induk organisasi di lingkungan Pasar Klewer sebesar Rp 100 ribu.

Namun sayangnya, ada juga pendengar yang kadang kala bersikap kurang ajar dengan memanfaatkan radio untuk kepentingan pribadi mereka. ‘’Ada pendengar yang kebangetan, masak memanfaatkan kita untuk memesankan makanan kayak sate kambing atau bakso. Biasanya mereka telepon ke kita dan minta pedagang sate disuruh ke los sekian, gitu. Sebenarnya jengkel juga sih, soalnya kan kita nggak bisa ngelacak yang telepon itu siapa, mau pesan beneran atau cuma iseng aja. Tapi mau bagaimana lagi namanya juga ngemong orang banyak,” ujarnya.

Sekarang ini Radio Gapura Klewer juga menyediakan ajang karaoke secara live dengan tarif Rp 1.000 per lagu. Ternyata attensi pendengar lumayan bagus, sebab mereka merasa bisa menyalurkan bakat bernyanyi dan didengar seantero pasar. “Lucunya, kadang ada yang mau ngikut karaoke tapi ternyata nggak bisa nyanyi, maksudnya suaranya nggak keruan tapi maksa banget. Ya, mau gimana lagi terpaksalah kita terima,” ungkap Widya.

Tak jarang, para penyiar yang semuanya perempuan itu mendapat telepon yang isinya berupa komplain. Bahkan seringnya komplain itu disampaikan dalam bentuk makian. “Biasanya kalau ada speaker yang mati atau sound yang kami pasang terlalu keras, para pedagang itu langsung telepon sambil maki-maki bahkan kadang ada yang mengeluarkan kata-kata yang sangat kotor. Apalagi kalau pas Jumat kan harus ada relay khotbah Jumat dari Masjid Agung Solo, tapi kami telat muter-nya, wah, bisa dimaki habis-habisan tuh,” keluhnya.***
[Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Kombinasi Edisi 10/Agustus 2005]